Pak Ale dan Manusia lainnya

Pagi ini seorang teman, loper koran favoritku datang kekantor untuk mengantarkan tabloid berlangganan yang aku pesan beberapa waktu lalu. Pak Ale, itu namanya. Seperti biasa, setiap pertemuan kami bersendagurau tentang dunia, umur beliau yang sudah senja serta pekerjaan yang mengharuskan ia hidup bersama berita – berita terkini membuat pembicaraan kami mengalir seru.

Pagi ini berbeda, wajah pak ale bermuram durja, aku tak yakin tebakanku benar tapi seingatku, selama hampir 3 tahun berlangganan dengan beliau, belum pernah ku lihat wajahnya sesedih ini. Beliau datang menggunakan baju berwarna putih berwarna senada dengan celana pendek ciri khasnya. Pak ale tersenyum memandang wajahku, kemudian berkata ” entahlah jim, apa salah kami umat yesus, sudah dengar beritanya kan ?. Hati saya hancur mendengar beritanya, bagaimana tega mereka meledakkan tempat ibadah sesuci itu, nasib jadi minoritas ya begini “. Aku bingung mendengarnya, wajahku kaku, hatiku tertegun, aku sudah coba tidak berbicara masalah ini, tapi rasanya benar – benat menohok. Seorang sekuat pak ale, meneteskan air mata di wajah kuatnya.

Aku tak yakin bisa meredakan sakit hatinya tapi aku coba menjawab ” Pak Ale, ini bukan tentang minoritas atau mayoritas, ini tentang pandangan mereka yg salah, yang pasti, kami tidak seperti itu, Kami juga mengutuk yang mereka perbuat “, aku menjawabnya dengan sangat hati – hati. Pak ale adalah simbol dari mereka yang terluka kepercayaannya, kepercayaan bahwa mereka bisa aman di Negeri ini.

Pak Ale adalah seorang yang kuat, seorang yang yakin bahwa agama memberikan hukum sebab akibat yang baik, yakin bila seorang seorang beragama maka dia akan menjadi orang baik, yakin bila semua agama mengajarkan kita agar baik ke sesama manusia, yakin bila agama bisa membawa keamanan ke seluruh manusia, tapi keyakinannya terhadap hal tersebut rusak pada pagi itu dan menimbulkan pertanyaannya, untuk apa agama bila kita akhirnya tidak menjadi MANUSIA ?

Ini tentang cinta yang memanusiakan kita

Cinta kita pada Tuhan yang membuat kita tahu betapa perlunya menjadi Orang Baik pada sesama Manusia

Cinta kita pada nabi yang menyadarkan kita bahwa betapa cintanya Beliau pada Manusia – manusia di bumi tanpa terbedakan kepercayaannya

Pak Ale hanya satu dari sekian banyak orang “terluka” dari hal yang terjadi minggu kemarin

Mari kita berpegangan tangan, buktikan ini bukan tentang Mayoritas ataupun minoritas, mari kita pulihkan luka mereka dengan menjalankan perintah Tuhan kita untuk menjadi orang baik. Karena yang melakukan hal kemarin pastilah bukan orang baik.

Teruntuk Pak Ale, ” Kuatlah pak, Tuhan pasti menitipkan berkah disetiap bencana, karena selalu ada pelangi setelah hujan minimal udaranya jadi dingin. “

jimmy.esa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *